Published on April 06, 2026
By Christian Ponto
Bagikan artikel:
Tidak ada ruang rapat mewah. Tidak ada papan visi besar yang tergantung di dinding. Yang ada, dua tahun lalu, hanyalah sebuah ruangan kecil, papan tulis penuh coretan yang nyaris tak terbaca, dan keheningan yang cukup berat untuk dirasakan.
Tim LearningRoom baru saja selesai melihat demo pertama produk yang mereka bangun. Animasi tersendat. Alur membingungkan. Ada satu pertanyaan yang menggantung di udara, dan tak seorang pun ingin melontarkannya lebih dulu: Apa yang kita buat ini benar-benar berguna?
Mereka ingin menjawab persoalan yang sudah lama menghantui pendidikan di Indonesia: bagaimana cara belajar bahasa Inggris yang tidak membuat anak-anak merasa terbebani? Bagaimana membangun rasa percaya diri, bukan sekadar nilai?
Keputusan yang diambil saat itu bukan tentang fitur baru atau teknologi yang lebih canggih. Kesepakatan akhir adalah menggeser fokus: dari sekadar membangun platform pembelajaran, namun menciptakan ekosistem. Sebuah tempat di mana murid tidak hanya belajar, tetapi juga berani mencoba, salah, dan tumbuh.
Dua tahun kemudian, tim yang sama duduk di ruangan yang sekarang terasa terlalu sempit untuk menampung semua mimpi baru. Di papan tulis itu, sekarang terpampang bukan lagi coretan konsep, tetapi ribuan nama sekolah, puluhan kota, dan guru. Mereka tidak lagi bertanya apakah produk ini berguna. Mereka melihatnya sendiri bagaimana tampilan di layar, ruang kelas, dan senyum ceria anak-anak yang dulu diam sekarang mulai berani bicara.
Ruangan meeting tim LearningRoom hari ini bukan hanya tempat menyusun konten atau merumuskan kode. Kini lebih hidup dengan suara-suara dari berbagai sudut, dari masing-masing departemen, yang membawa cerita beragam. Semuanya berujung pada satu kesadaran yang sama: pertumbuhan mereka adalah pertumbuhan bersama.
Restu Sekar, Head of Digital Marketing, masih ingat betapa sulitnya dua tahun lalu berupaya meyakinkan para guru bahwa “pendekatan berbasis kompetensi” bukan sekadar istilah. Kini, ia tak perlu banyak menjelaskan. Ia cukup menunjukkan.
“Dulu kita bicara soal platform pembelajaran. Sekarang kita melihat pengembangan kompetensi secara menyeluruh, dan rasa percaya diri,” ujarnya sambil menyandarkan diri di kursi ruang rapat kecil yang dulu terasa luas, kini berdesak-desakan dengan rencana-rencana baru.
Timnya tak hanya membangun brand, mereka ikut membentuk bagaimana murid-murid dari segala penjuru Indonesia belajar berani, melalui pendekatan yang memadukan kompetensi, tantangan, hingga acara-acara yang membuat motivasi tak sekadar wacana. “Kita bukan sekadar platform. Kita ruang tumbuh.”
Di ruangan yang sama, Tri Darulliyanti - Content Operations Lead di LearningRoom, sedang membuka dasbor yang berisi lebih dari 3.500 materi pembelajaran. Tapi, bukan angka itu yang paling ia banggakan. Ia lebih menyoroti 36 metode belajar terstruktur yang mereka desain ulang berkali-kali.
“Awalnya kita pikir konten yang banyak itu kunci,” katanya sambil tersenyum kecil. “Ternyata tidak. Yang membuat perbedaan adalah bagaimana konten itu mengalir, dari sekadar menangkap informasi sampai benar-benar menggunakannya.” Perjalanan itu panjang: dari konten sarat animasi, penyempurnaan alur belajar, hingga pengembangan kemampuan receptive dan productive secara beriringan. Hasilnya, ungkap Rida, “lebih interaktif, lebih utuh, dan masih terus berkembang.”
Jika tim Content membangun kedalaman, maka tim Sales memperluas jangkauan. Farah Farihah Marthia, Sales Support Staff, memperlihatkan peta yang kini menunjukkan 10 titik kota. Namun baginya, angka itu hanyalah representasi dari sesuatu yang lebih besar: kepercayaan.
“Dulu banyak kepala sekolah yang ragu. Mereka sudah sering dengar janji digitalisasi,” katanya. Kini, ia bisa menunjuk 683 koneksi guru, lebih dari 41 ribu murid, dan 462 sekolah yang menjadi mitra. “Kami hadir untuk membuat belajar bahasa Inggris semakin mudah diakses,” ujarnya. Sederhana, tapi perjalanannya penuh negosiasi panjang dan keyakinan yang harus dibangun dari nol.
Di balik semua itu, ada juga sosok Keshia Sherie dari tim Product (Senior Product Manager) yang merancang fondasi. Ia dan timnya sadar bahwa Indonesia tidak bisa disamaratakan. Infrastruktur di kota besar dan daerah terpencil akan berbeda. Maka pendekatannya harus adjustable serta mampu menyesuaikan, tanpa mengorbankan pengalaman belajar.
“Kami terus membangun sistem di belakang layar,” tandas Keshia. Hari ini, LearningRoom memiliki lebih dari 50 fitur, mulai dari pelacakan waktu nyata hingga gamifikasi. Semua dirancang agar tetap berfungsi, secara online maupun offline, dalam kondisi apapun. “Komitmen kami sederhana: menciptakan ekosistem belajar yang nyata, terukur, dan berdampak.”
Dua tahun. Angka-angka besar kerap digunakan untuk merayakan: 50 fitur, 3.500 konten, 41 ribu murid. Tapi jika mendengar cara mereka berbicara tentang masa depan, yang terasa bukanlah euforia, melainkan ketenangan yang penuh hasrat.
Restu berbicara tentang “terus menginspirasi” dengan nada yang tidak terdengar seperti slogan, melainkan janji. Rida sudah mulai menggarap metode berikutnya—yang akan membuat keterampilan produktif lebih hidup. Farah memandang peta Indonesia dan melihat masih banyak kota yang belum tersentuh. Keshia membayangkan fitur ke-51, ke-100, dan seterusnya, dengan prinsip yang sama: tetap sederhana, tetap berdampak.
Dua tahun lalu, mereka berhenti sejenak dalam keheningan, mempertanyakan apakah semua ini akan berarti. Kini keheningan itu tergantikan oleh suara anak-anak yang sebelumnya takut, kini mulai angkat bicara; oleh guru-guru yang dulu ragu, kini menjadi mitra; oleh ekosistem pembelajaran yang awalnya hanya konsep, kini hidup dan terus tumbuh.
Tahun ketiga bukan tentang seberapa jauh mereka melangkah. Tapi tentang seberapa dalam mereka hadir—di lebih banyak kota, di lebih banyak kelas, dan di lebih banyak momen ketika seorang anak menyadari bahwa dirinya bisa.
Dua tahun pertama adalah tentang membangun fondasi. Tahun-tahun berikutnya adalah tentang menumbuhkan harapan. Dan jika ada satu hal yang disepakati oleh semua suara di ruangan itu—dari Restu, Rida, Farah, hingga Keshia—maka itu adalah: mereka baru saja mulai.
***
Previous
Game Interaktif, Belajar Inggris Efektif
Next
Manfaat Mengejutkan dari Game Edukatif di Kelas Bahasa Inggris
02 May - 3 min read
10 Jun - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
02 Aug - 3 min read
02 Aug - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read