Published on March 27, 2026
By Christian Ponto
Bagikan artikel:
Setiap tahun, lebih banyak sekolah yang berlangganan platform Bahasa Inggris digital. Anggarannya nyata, pelatihannya ada, dan kepala sekolahnya optimis.
Tapi kalau kamu masuk ke kelasnya enam bulan kemudian, yang berubah hanyalah perangkatnya — bukan kemampuan siswanya.
Ini bukan kegagalan teknologinya. Ini kegagalan asumsi yang dibawa sejak awal.
Banyak sekolah memperlakukan platform digital seperti buku teks — beli sekali, pakai selamanya, dan hasilnya akan datang sendiri.
Padahal, platform hanyalah pintu. Yang menentukan apakah siswa benar-benar masuk dan belajar di dalamnya adalah rutinitas yang dibangun guru setiap hari di kelas.
Tanpa jadwal yang konsisten, tanpa ekspektasi yang jelas, dan tanpa guru yang ikut terlibat — platform secanggih apapun akan berubah menjadi ikon yang jarang dibuka.
"Siswa kami aktif di platform" adalah kalimat yang sering saya dengar dari koordinator program. Lalu ketika ditanya lebih lanjut, yang dimaksud aktif adalah: sering login, banyak soal dikerjakan, dan level terus naik.
Aktivitas bukan kompetensi. Keduanya terlihat mirip di laporan, tapi rasanya berbeda total di dalam kelas.
Program yang sehat mengukur apakah siswa bisa melakukan sesuatu yang kemarin tidak bisa mereka lakukan — bukan seberapa sering mereka membuka aplikasinya.
Ada pola yang berulang: sekolah membeli platform, memberikan akun kepada siswa, lalu menganggap tugas selesai. Guru diberi tahu bahwa ada tools baru — tapi tidak diberitahu bagaimana mengintegrasikannya ke dalam cara mereka mengajar.
Akibatnya, platform berjalan paralel dengan pembelajaran di kelas, bukan menjadi bagian darinya. Siswa merasakannya sebagai dua hal yang terpisah: pelajaran Bahasa Inggris di kelas, dan tugas digital di rumah.
Guru bukan hambatan digitalisasi. Mereka adalah kuncinya.
Tidak semua konten Bahasa Inggris digital dibuat untuk siswa Indonesia. Banyak yang diadaptasi dari materi luar negeri — cerita, nama karakter, dan situasi yang terasa jauh dari keseharian anak sekolah di Surabaya, Medan, atau Kupang.
Otak belajar lebih cepat ketika kontennya terasa familiar. Siswa yang bisa membayangkan situasinya akan lebih mudah mengingat bahasanya.
Relevansi bukan fitur tambahan dalam pembelajaran bahasa. Ia adalah fondasinya.
Bukan platformnya. Platform yang baik sudah cukup banyak tersedia.
Yang perlu diubah adalah cara sekolah mendefinisikan keberhasilan program digital — dari sekadar "platform sudah berjalan" menjadi "siswa kami mulai berani berbicara."
Pertanyaan yang tepat bukan: apakah sekolah kita sudah digital? Pertanyaan yang tepat adalah: apakah digital yang kita terapkan benar-benar mengajarkan sesuatu?
"Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Pertanyaan yang harus dijawab pertama bukan 'bagaimana cara menggunakannya', tapi 'untuk apa kita menggunakannya'."
— Neil Postman, Technopoly
***
Previous
Peluncuran LearningRoom & CSR Panti Asuhan
Next
Alasan Anak Wajib Mulai Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini?
02 May - 3 min read
10 Jun - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
02 Aug - 3 min read
02 Aug - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read