Belajar Bahasa Inggris

Ada Siswa Tertinggal di Setiap Kelas Digital, Namun Kita Jarang Menyadarinya..

author img

Published on April 01, 2026

By Christian Ponto

Ada Siswa Tertinggal di Setiap Kelas Digital, Namun Kita Jarang Menyadarinya..

Bagikan artikel:

Di setiap kelas yang menggunakan platform digital, selalu ada satu atau dua siswa yang terlihat sibuk di layarnya — tapi sebenarnya tidak tahu harus mulai dari mana.

Mereka tidak mengangkat tangan. Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya duduk diam, mengklik sesuatu secara acak, dan berharap tidak ada yang memperhatikan.

Dan di kelas yang sibuk dengan layar masing-masing, sangat mudah untuk tidak memperhatikan.

Masalahnya Bukan Kemampuan Siswa

Ada asumsi yang sudah terlanjur mengakar dalam dunia pendidikan digital: bahwa anak-anak zaman sekarang adalah digital native — generasi yang lahir dengan intuisi teknologi bawaan.

Asumsi itu sebagian benar. Tapi sebagian lagi berbahaya. Karena digital native tidak berarti digital ready. Bisa bermain game atau menggulir media sosial berjam-jam tidak otomatis membuat seseorang siap menggunakan platform pembelajaran secara efektif.

Ketika sistem dirancang berdasarkan asumsi bahwa semua siswa sudah siap, maka siswa yang belum siap tidak punya tempat untuk jujur tentang kesulitannya.

Mereka hanya belajar untuk terlihat baik-baik saja.

Kesulitan Digital Tidak Selalu Terlihat Seperti Kesulitan

Siswa yang kesulitan dengan alat digital jarang menunjukkannya secara terang-terangan. Mereka tidak duduk bingung menatap layar kosong — setidaknya tidak untuk waktu yang lama.

Yang lebih sering terjadi adalah pola yang lebih halus: mereka selalu mengerjakan bagian yang paling mudah terlebih dahulu dan berhenti di situ. Mereka terlihat aktif tapi skornya tidak bergerak. Mereka mengerjakan ulang latihan yang sama berulang kali — bukan karena ingin memahami lebih dalam, tapi karena tidak tahu harus melanjutkan ke mana.

Data platform biasanya menyimpan semua petunjuk ini. Masalahnya, kita jarang membacanya sebagai narasi tentang siswa — kita membacanya sebagai angka tentang performa.

Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Siswa Ini

Saya perlu jujur di sini. Solusi untuk siswa yang kesulitan dengan alat digital bukan lebih banyak tutorial, bukan video panduan tambahan, dan bukan instruksi yang lebih panjang.

Yang mereka butuhkan pertama kali adalah izin untuk tidak tahu. Dan izin itu hanya bisa diberikan oleh guru — bukan oleh sistem.

Ketika guru secara eksplisit membuka ruang — misalnya dengan berkata "kalau ada bagian yang membingungkan, itu normal dan kita akan selesaikan bersama" — siswa yang selama ini berpura-pura baik-baik saja akan mulai berani mengakui di mana mereka sebenarnya berada.

Kepercayaan datang sebelum kemampuan. Selalu.

Tiga Hal Kecil yang Bisa Dimulai Besok

Bukan program khusus. Bukan intervensi besar. Tiga kebiasaan sederhana yang bisa langsung diterapkan tanpa mengubah struktur kelas yang sudah ada.

Pertama, luangkan dua menit di awal sesi untuk berkeliling — bukan untuk mengawasi, tapi untuk melihat layar siswa secara kasual. Bukan dengan wajah evaluatif, tapi dengan ekspresi yang mengundang pertanyaan. Dua menit itu sering cukup untuk menangkap siswa yang sedang berpura-pura sibuk.

Kedua, gunakan data platform secara berbeda. Jangan hanya lihat siapa yang skor tertinggi. Cari siapa yang paling lama di satu level tanpa kemajuan — itu adalah tanda yang lebih jujur tentang siapa yang membutuhkan perhatian.

Ketiga, normalkan kebingungan sebagai bagian dari proses belajar — bukan sebagai tanda kegagalan. Ketika guru berbagi pengalaman sendiri tentang hal yang pernah membingungkan, siswa belajar bahwa tidak tahu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Pertanyaan yang Lebih Jujur untuk Ditanyakan

Kita sering bertanya: bagaimana cara membuat siswa lebih nyaman dengan teknologi? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah: sudahkah kita membuat kelas digital cukup aman bagi siswa untuk mengakui bahwa mereka belum nyaman?

Karena selama siswa merasa harus terlihat bisa, mereka tidak akan pernah benar-benar belajar.

Dan itu bukan kegagalan siswanya. Itu kegagalan ruangnya.

"Setiap anak adalah jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menghabiskan hidupnya dengan percaya bahwa ia bodoh."

— Albert Einstein

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

logo-LR-justpasteit.png

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

Webinar GEMILANG#1: Telisik Manfaat dan Permasalahan Digitalisasi Pendidikan

Next

6 Peran Guru yang Jarang Diketahui, Bikin Belajar Lebih Efektif

Featured Articles